Sosial Provement

Mari kita berbicara tentang trend ikut-ikutan yang sebenarnya banyak orang tidak mau mengikutinya karena “katanya” terlalu mainstream. Padahal sebenarnya manusia pingin ikutan lho dasarnya. Cuma pada nggak ingin ngaku aja deh.

 

Oke, kita bicara dengan cara yang sederhana. Kebetulan saya adalah pecinta kuliner malam. Terutama nasi goreng. Saya sering sekali mencicipi makanan khas kaki lima ini dari segala penjuru Bandung. Mulai dari Antapani, Suci, Buah Batu, Sukajadi dan banyak tempat lainnya yang saya tahu pasti dimana nasi goreng paling enak khas disana. Mulai dari yang antrinya harus setengah jam lebih. Hingga nasi goreng yang jam lima sore sudah habis. Wow! Hebat kan?

Tapi kira-kira apa sih yang membuat kita untuk mencoba hal yang baru. Melakukan hal yang belum pernah kita coba. Yuk kita bahas… :D

 

 

1. Rekomendasi

Mungkin sama seperti di Who Want to be A Millionaire. Apa kata teman itu menjadi hal yang membentuk persepsi kita. Apalagi teman yang sudah kredible dengan lidahnya. Soalnya kadang ada juga teman kita yang Ahli Syukur. Alias kalau ada makanan adanya enak dan enak banget. Susah kan kalau gini.

Apa kata teman kadang menjadikan kita mengikutinya. Apalagi teman yang berada di lingkar dekat kita. Rekomendasinya pasti kita pertimbangkan dengan baik. Saya sering sekali mendapatkan nasi goreng yang enak dari rekomendasi teman. Daripada uji coba sendiri. Hal ini juga berlaku dengan image yang ada di dalam brand Anda. Anggap saja Nasi Goreng ini adalah produk Anda. Sekali ada cap nggak enak. Pasti akan menyebar ke teman-temannya. Begitu juga dengan sebaliknya. Sekali enak. Pasti nyebar juga.

 

2. Banyak orang yang beli

Jika seandainya Anda sedang lapar berat… dan ingin makan yang enak. Saran saya cari yang penggorengannya gosong. Karena penggorengan yang gosong artinya sering dipakai. Dan kalau penggorengan sering dipakai artinya pelanggannya banyak. Tapi karena metode tanya penggorengan gosong atau nggak banyak orang yang enggan untuk menggunakannya. Kita menggunakan metode yang paling mudah saja, yaitu….

Melihat Banyaknya Antrian

Coba kita imajinasikan. Jika kita sedang bingung mau makan apa. Ternyata ada dua warung nasi goreng. Satu ramai sekali. Antriannya sampai luber ke jalan-jalan. Sementara yang satunya lagi sepi. Nyamuk aja males ke warungnya. Hampir 93% pasti memilih warung yang ramai. Lebih baik menunggu sebentar untuk makan. Daripada mencoba yang baru. Sisanya mungkin karena sudah terlalu lapar dan suka Anti Mainstream. Cobain tempat yang sepi.

Hasilnya… kebanyakan lebih enak tempat yang ramai. Iyalah… kalau makanan enak wajar dong banyak yang beli. Logika yang simple kan. Logika ini yang mendasari keinginan manusia untuk mendapatkan pengakuan social. Kalau mereka “sudah pernah lho makan di tempat yang enak dan didatangi banyak orang”.

 

3. Merasa Aneh jika Berbeda

Insting manusia merasa harus beradaptasi dengan lingkungan jika ingin diterima oleh sebuah lingkungan yang baru. Misalnya sekarang sudah zamannya ponsel Android dan Apple. Jika ada oarang menggunakan Nokia 3310. Bisa dipastikan dia adalah salah seorang teman dari Presiden Soekarno atau teman masa kecil Gajah Mada. Hari gini… siapa yang masih pakai sms gitu kalau hubungin orang. Helloo..,… ada whatsapp, line, path, facebook yang udah ada tergeletak tinggal didownload. Ngapain ajaaaaa…..

 

Nah kira-kira itulah gunanya social provement. Biar usaha kita tambah laris manis. Sekian….